← KEMBALI

PERJUANGAN DAN PENGABDIAN - Mendirikan NW

A. MENDIRIKAN ORGANISASI NAHDLATUL WATHAN [NW]

1. Pengertian dan Latar Belakang Berdirinya

Organisasi secara leksikal diartikan sebagai; 1] kesatuan [susunan dan

sebagainya] yang terdiri atas bagian-bagian [orang dan sebagainya] di

dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu; 2] kelompok

kerjasama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

Sedangkan secara terminologis, menurut The Liang Gie, dapat

dikategorikan ke dalam tiga Mainstream, yaitu 1] sistem kerjasama; 2]

sekelompok orang bekerjasama; dan 3] proses pembagian kerja.

Sebagai representasi dari masing-masing kelompok pengertian di atas,

dapat dikemukakan beberapa pengentian yang dikemukakan oleh para ahli,

antara lain:

1. Louis Allen dalam Management and Organization mengartikannya sebagai

“A System of will defined jobs, each bearing a definite measure of

authorify, responsibility, and accountability the whole consciously

designed to enable the people of the enterprise to work more

effectivity together in accomplishing their objectives” [Suatu

sistem mengenai pekerjaan-pekerjaan yang dirumuskan dengan baik,

masing-masing pekerjaan itu mengandung sejumlah wewenang, tugas dan

tanggung jawab tertentu, keseluruhannya disusun secara sadar untuk

memungkinkan orang-orang dan organisasi tersebut bekerjasama secara

lebih efektif untuk mencapai tujuan mereka].

2. Daniel Griffith dalam The Administrative Theory mengartiakannya

sebagai “An Essemble of individuals who perform distinct but

interrelated and coordinated function in order that one or more

tasks can be completed” [Kumpulan individu-individu yang

melaksanakan fungsi-fungsi yang berbeda, tetapi saling berhubungan

dan dikoordinasikan agar sebuah tugas atau lebih dapat diselesaikan]

3. Dexter Kimbal dan Dexter Kimbal Jr. dalam Priciples of Industrial

Organization menyatakan, “Organization is subsidiary to management.

It embraces the duties of designating the departments and personnel

that are to carry on the work, defining their functions anf

specifying the relations that are to exist between departements and

individuals. Organization as activify is, in fact, a mechanism of

management” [Organisasi merupakan cabang dari manajemen. ini

mencakup kewajiban-kewajiban menunjuk bagian-bagian dan

individu-individu yang harus melakukan pekerjaan merumuskan

fungsi-fungsi mereka dan merinci hubungan-hubungan yang harus ada di

antara bagian-bagian dan orang-orang tersebut. Sesungguhnya

organisasi sebagai suatu aktivitas adalah cara kerja manajemen].

Organisasi Nahdlatul Wathan, yang selanjutnya disingkat NW, adalah

sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang

pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Onganisasi ini didirikan oleh

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada hari Ahad

tanggal, 15 Jumadil Akhir 1372 H bertepatan dengan tanggal I Maret 1953

M di Pancor Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Adapun yang melatar belakangi berdirinya organisasi ini adalah karena

melihat pertumbuhan dan perkembangan cabang-cabang Madrasah NWDI dan

NBDI yang begitu pesat, di samping perkembangan aktivitas sosial

lainnya, seperti majlis dakwah dan majlis ta’lim dan lainnya. Untuk itu

diperlukan suatu wadah atau organisasi yang mewadahi dan mengorganisir

segala macam bentuk kebutuhan dan keperluan pengelolaan lembaga-lembaga

tersebut secara profesional.

Sebagai gambaran pesatnya perkembangan cabang-cabang Madrasah NWDI dan

NBDI, pada awal tahun 1953 tercatat kedua madrasah tersebut telah

memiliki 66 cabang yang tersebar di wilayah Pulau Lombok. Cabang-cabang

tersebut adalah :

- Lombok Timur

1. Madrasah NWDI dan NBDI di Pancor

2. Madrasah Sa’adah I Kelayu.

3. Madrasah Sa’adah II Kelayu.

4. Madrasah Nurul Wathan I di Selong.

5. Madrasah Nurul Wathan II cii Selong.

6. Madrasah Shirathal Mustaqirn di Rempung.

7. Madrasah Sullamul Banat di Sakra.

8. Madrasah Nahdlatus Shibyan di Lepak

9. Madrasah Sullamussalam di Kotaraja.

10. Madrasah Darusshibyan di Aikmel.

11. Madrasah Nurul Iman di Mamben.

12. Madrasah Tarbiyatul Islam di Wanasaba.

13. Madrasah Hujjatul Wathan Lendang Nangka.

14. Madrasah Is’aful Wathan di Perian.

15. Madrasah Sullamuddiyanah di Lepak.

16. Madrasah Sa’adatuddarain di Kalijaga.

17. Madrasah Suflamuddiyanah di Ratang.

18. Madrasah Ittihadul Islam di Kotleko.

19. Madrasah Far’iyyah di Pringgasela.

20. Madrasah Diniyah Islamiyah di Sekarteja.

21. Madrasah Al-Banat di Wanasaba.

22. Madrasah Raudlatul Athfal di PringgaJurang.

23. Madrasah Sa’adatul Islam di Tembeng Putik.

24. Madrasah Raudlatul Awam di Jerowaru.

25. Madrasah ‘Unwanul Falah di Pao’ Lombok.

26. Madrasah Diniyah Islamiyah dijorong Pancor.

27. Madrasah Hidayatul Islam di Masbagik.

28. Madrasah Diniyah Islainiyah I di Berini Pancor.

29. Madrasah Diniyah Lauq Masjid di Pancor.

30. Madrasah Raudlatul Iman di Apitaik.

31. Madrasah Hidayatul Ikhwan di Embungtiang

32. Madrasah Is’aful Banat di Perian.

33. Madrasah Diniyah Islamiyah di Bagiklonggek

34. Madrasah Diniyah Islamiyah di Pringgajurang

35. Madrasah Menengah Islam di Pancor

36. Madrasah Al-Falah di Batu Bele’

- Lombok Tengah

1. Madrasah Nurul Yaqin di Praya.

2. Madrasah Nahdlatuththullab di Kopang

3. Madrasah Nahdlatussyari’ah di Serengat.

4. Madrasah Nurul Huda di Batu Nyala.

5. Madrasah Najahutta’lim di Pengadang.

6. Madrasah Nahdlatul Sa’adatul Banat di Praya.

7. Madrasah Nahdlatushshibyan di Darmaji.

8. Madrasah Hidayatul Wathan di Kopang.

9. Madrasah Sullarnussa’adatain di Kopang.

10. Madrasah Nasyri’ah di Sekunyit

11. Madrasah A1-Hidayah di Sungkerit.

12. Madrasah Falahuddin di Lendang Batah.

13. Madrasah A1-Khairiyah di Mujur.

14. Madrasab Hidayatul Wathan diJanapfla.

15. Madrasah Al-Busyra di Mantang.

16. Madrasah Nurul Islam di Kopang.

17. Madrasah Tambihul Muslimat di Praya.

18. Madrasah Sa’adah di Tongge.

- Lombok Barat

1. Madrasah Nahdlatul Awlad di Kapek.

2. Madrasah Nurul Huda di Narmada.

3. Madrasah Raudlatul Athfal di Dasan Tapen.

4. Madrasah Raudlatul Athfal di Tana’ Bea’.

5. Madrasah Nahdlatush Shibyan di Belencong.

6. Madrasah Haqqul Yakin di Sayang-sayang.

7. Madrasah Raudhatul Muslimat di Kayangan.

8. Madrasah Nurul Hidayah di Bangket Bawak.

9. Madrasah Nurul Huda di Gondang.

10. Madrasah Nahdlatul Mujabidin dijempong.

Dari gambaran di atas, terlihat betapa perkembangan madrasah NWDI dan

NBDI mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sehingga dibutuhkan

sebuah perangkai organisasi yang menaungi keseluruhan madrasah tersebut.

Satu tahun lebih setelah pendeklarasian onganisasi, pada tanggal 22-24

Agustus 1954 di Pancor Lombok Timur diadakan Muktamar I organisasi

Nahdlatul Wathan, yang dihadiri oleh seluruh pengurus cabang Madrasah

NWDI dan NBDI serta para santri madrasah.

Muktamar I Organisasi Nahdlatul Wathan ini, berhasil mengambil

keputusan-keputusan, sebagai berikut:

1. Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan [PBNW]

2. Biro-biro dalam Kepengurusan PBNW

3. Pengesahan Lambang Organisasi yang terpisah dan lambang Madrasah

NWDI

4. Penetapan kedudukan PBNW di Pancor, Lombok Timur

5. Penetapan program kerja masa bakti 1953-1958

Adapun Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan masa bakti tahun

1953-1958 adalah sebagai berikut :

1. Ketua Umum TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

2. Wakil Ketua H.M. Yusi Muhsin Aminullah

3. H. Abdul Qadir Ma’arif

4. H. Moh. Bushairi

5. Bendahara Tuan Guru H.M. Saleh Yahya

6. Wakil Bendahara Tuan Guru H. Alimuddin

Kemudian dalam rangka konsolidasi organisasi, Nahdlatul Wathan telah

melaksanakan rapat anggota untuk tingkat ranting, konfrensi untuk

tingkat Anak Cabang, Cabang, Daerah, Wilayah dan Perwakilan. Sedangkan

untuk tingkat Pengurus Besar diselenggaran muktamar.

Selanjutnya, setelah mengadakan muktamar I, hingga meninggalnya Tuan

Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, organisasi Nahdlatul

Wathan tercatat telah mengadakan muktamar sebanyak 10 kali. Adapun

tempat, tanggal dan tahun terselenggaranya Muktamar tersebut, adalah

sebagai berikut :

1. Muktamar I tanggal 22-24 Agustus 1954 di Pancor

2. Muktamar II tanggal 23-26 Maret 1957 di Pancor

3. Muktamar III tanggal 25-27 Januari 1960 di Pancor

4. Muktamar IV tanggal 10-14 Agustus 1963 di Pancor

5. Muktamar V tanggal 29 Juli .- 1 Agustus 1966 di Pancor

6. Muktamar VI tanggal 24-27 September 1969 di Mataram

7. Muktamar VII tanggal 30 Nopember – 3 Desember 1973 di Mataram

8. Muktamar Kilat Istimewa 28-30 Januari 1977 di Pancor

9. Muktamar VIII tanggal 24-25 Februari 1986 di Pancor

10. Muktamar IX tanggal 3-6 Juli 1991 di Pancor

1. Legalitas Organisasi

Sebagai sebuah organisasi formal, eksistensi Nahdlatul Wathan

mendapatkan legalitas yuridis formal berdasarkan akte Nomor 48 tahun

1957 yang dibuat dan disahkan oleh Notaris Pembantu Hendrix Alexander

Malada di Mataram. Akte ini bersifat sementara, karena wilyah

yurisdiksinya hanya di Pulau Lombok, sehingga tidak memungkinkan untuk

mengembangkan organisasi ke luar wilayah yurisdiksi tersebut.

Untuk itu, dibuat akte nomor 50, tanggal 25 Juli 1960, di hadapan

Notaris Sie Ik Tiong di Jakarta. Kemudian pengakuan dan penetapan juga

diberikan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. J.A.5/105/5

tanggal 17 Oktober 1960, dan dibuat dalam Berita Negara Republik

Indonesia Nomor 90, tanggal 8 November 1960.

Dengan legalitas akte kedua ini, maka organisasi Nahdlatul Wathan

mempunyai kekuatan hukum tetap untuk mengembangkan organisasinya ke

seluruh wilayah negara Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke,

sehingga setelah tahun 1960, maka terbentuklah pengurus Nahdlatul Wathan

di Bali, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta,

Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, danlain-lainnya, bahkan sampai ke daerah

Riau dengan status perwakilan.

Dengan adanya Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985 tentang keormasan yang

antara lain berisi tentang penerapan Asas Tunggal bagi semua organisasi

kemasyarakatan, maka Nahdlatul Wathan dalam Muktamar ke-8 di Pancor,

Lombok Timur pada tanggal 15-16 Jumadil Akhir 1406 H atau tanggal 24-25

Februari 1986 mengadakan peninjauan dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan

Anggaran Rumah Tangga organisasi. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran

Rumah Tangga ini kemudian dikukuhkan dengan Akte Nomor 3l tanggal 15

Februari 1987 dan Akte Nomor 32, juga tanggal 15 Februari 1987, yang

dibuat dan disahkan oleh waki1 Notaris Sementara Abdurrahim, SH. di

Mataram. Dengan demikian, maka jelaslah eksistensi dan legalitas formal

organisasi Nahdlatul Wathan sebagai sebuah organisasi sosial

kemasyarakatan.

1. Aqidah, Asas, Tujuan dan Ruang Lingkup Organisasi

Organisasi Nahdlatul Wathan menganut faham aqidah Islam Ahlu al-Sunnah

wa al-Jama’ah ‘ala Madzahib al-Iman al-Syafi’i dan berasaskan Pancasila

sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985. Sejak awal berdirinya,

organisasi berasaskan Islam dan kekeluargaan. Asasnya berlaku hingga

Muktamar ke-3, dan kemudian diganti dengan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah

‘ala Madzahib al-Iman al-Syafi’i. Perubahan ini terjadi mengingat

khittah perjuangan kedua madrasah induk, NWDI dan NBDI.

Adapun sebagai landasan argumentasi Nahdlatul Wathan menganut aqidah

Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah ‘ala Madzahib al-Iman al-Syafi’i adalah

sebagai berikut :

1. Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwiyatkan oleh Imam Tirmidzi dan

Imam al-Bukhari dalam Tarikh al-Kabir al-Baihaqi dalam Syu‘ab

al-Imam, Abu Dawud, Ibn Huzaimah, Ibn Hibban dan lain-lain.

Úóáóíúßõãú ÈöÇáÓøóæóÇÏö ÇáÃÚóÙóãö æóíóÏõ Çááå ãóÚó ÇáúÌóãóÇÚóÉö Ýóãóäú

ÔóÐøó ÔõÐøó Ýöì ÇáäøóÇÑö (ÑæÇå ÇáÊÑãíÐì)

“Hendaklah kamu bersama golongan terbesar [mayoritas] dan pertolongan

Allah selalu bersama golongan mayoritas, maka barang siapa yang

memisahkan diri [dari komunitas jama’ah] maka mereka termasuk dalam

golongan orang-orang ahli neraka.” [HR Tirmidzi].

áóäú ÊóÌúÊóãöÚõ ÃõãøóÊöíú Úóáóì ÇáÖøóáÇóáóÉö ÇóÈóÏðÇ ÝóÚóáóíúßõãú

ÈöÇáúÌóãóÇÚóÉö (ÑæÇå ÇáØÈÑÇäì)

“Allah tidak menghimpun ummat ini dalam kesesatan selama-lamanya dan

pertolongan Allah selalu bersama golongan mayoritas.” [HR al-Thabrani].

1. Fakta sejarah menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam sedunia dari

abad ke abad adalah Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dan bermadzhab

dengan salah satu madzhab yang empat dari sejak lahir madzhab itu.

2. Umat Islam Indonesia sejak awal telah menganut aqidah Ahlu al-Sunnah

wa al-Jama’ah dan menganut madzhab Syafi’i sejak madzhab masuk ke

Indonesia.

3. Imam-Imam Hufadz al-Hadits yang telah hafal beratus-ratus ribu

hadits yang diakui oleh kawan atau lawan akan keimanan, ketaqwaan

dan keahilan mereka, serta karangan mereka telah menjadi pokok dan

dasar pegangan umat Islam sedunia sesudah al-Qur’an al Karim,

sepenti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi,

Imam Baihaqi, Imam Nasa’i, Imam Ibnu Majah, Imam Hakim dan

lain-lainnya dan ratusan Imam ahli al-hadits. Semuanya menganut

aqidah Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dan bermadzhah Syafi’i atau yang

lainnya dari madzhah yang empat. Demikian juga dari Imam-imam dan

ulama fiqh, ushul, tasawwul merekapun menganut aqidah Ahlu al-Sunnah

wa al-Jama’ah dan juga bermadzhab.

4. Jumhur ulama ushul menandaskan bahwa orang yang belum sampai

tingkatan ilmunya pada tingkatan mujtahid muthlaq maka wajib

bertaqlid kepada salah satu madzhab empat dalam masalah furu’

syari’ah.

5. Fuqaha ‘Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mengatakan bahwa bermadzhab

bukanlah berarti membuang atau membelakangi al Qur’an dan Hadits

seperti tuduhan sementara orang. Namun sebaliknya bermadzhab adalah

benar-benar mengikuti Al-Qur’an dan Hadits karena kitab-kitab itu

adalah syarah dan Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri.

6. Imam Sayuti yang hidup pada awal abad 10 H yang terkenal sangat ahli

dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Karangan-karangan

beliau kurang lebih 600 buah kitab, yang sangat penting dan bernilai

tinggi dikalangan Islam. Beliau memperoleh gelar “Amir al-Mukminin

Fi al-Hadits” [raja umat Islam dalam ilmu hadits] karena beliau

telah menghafal ratusan ribu hadits. Pernah suatu ketika beliau

menyatakan dirinya telah mencapai tingkat mujtahid dan terlepas dari

madzhab yang diantaranya, yaitu madzhab Syafi’i. Maka segeralah

beliau diserang oleh para Imam ulama’ fiqh, mufassir, muhaddits dan

ahli ushul dengan alasan dan dalil yang sangat jitu dan tepat.

Akhirnya beliau dengan jujur dan penuh kesadaran mencabut

pernyataannya dan kembali bertaqlid serta bermadzhab dengan madzhab

Syafi’i.

7. Madzhab Syafi’i dilihat dari segi sumber atau dasarnya, lebih unggul

dibandingkan dengan madzhab-madzhab yang lain.

Sedangkan tujuan organisasi ini adalah Li I’laai Kalimatillah wa Izzi

al-Islam wa al-Muslimin dalam rangka mencapai keselamatan serta

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sesuai dengan ajaran Islam Ahlu

al-Sunnah wa al-Jama’ah ‘ala Madzahib al-Iman al-Syafi’i Radliyallahu

‘anhu. Tujuan ini merupakan penggabungan dan tujuan organisasi dan asas

organisasi sebelum Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985 diberlakukan.

Peserta Muktamar ke-8 menghendaki agar asas organisasi terdahulu tidak

dihilangkan dengan adanya ketentuan Asas Tunggal. Kompromi yang dapat

dilakukan adalah memindahkan pernyataan tentang asas Islam tersebut ke

dalam tujuan organisasi, sehingga makna esensial asas tersebut tidak

hilang.

1. Lambang Organisasi

Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah “Bulan Bintang Bersinar

Lima”, dengan warna gambar putih dan warna dasar hijau. Lambang ini

memliki makna, sebagai berikut :

a. Bulan melambangkan Islam

b. Bintang melambangkan Iman dan Taqwa

c. Sinar Lima melambangkan Rukun Islam

d. Warna gambar putih melambangkan ikhlas dan istiqomah

e. Warna dasar hijau melambangkan selamat bahagia dunia akhirat

1. Badan-Badan Otonom Organisasi

Organisai Nahdlatul Wathan merupakan organisasi kader, yang memiliki

badan-badan otonom sebagai wahana pengkaderan bagi kader-kader

organisasi di masa depan. Badan-badan otonom tersebut, terdiri dari:

1. Muslimat Nahdlatul Wathan [Muslimat NW]

2. Pemuda Nahdlatul Wathan [Pemuda NW]

3. Ikatan Pelajar Nabdlatul Wathan [IPNW]

4. Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan [HIMMAH NW)

1. Persatuan Guru Nahdlatul Wathan [PGNW]

2. Jam’iyyatul Qura’ wal Huffazh Nahdlatul Wathan

3. Ikatan Sarjana Nahdlatul Wathan [ISNW]

4. Ikatan Puteri Nahdlatul Wathan [Nahdliyat NW], dan

5. Badan Pengkajian, Penerangan dan Pengembangan Masyarakat Nahdlatul

Wathan [BP3M]

Badan-badan otonom ini masing-masing mempunyai Anggaran Dasar dan

Anggaran Rumah Tangga yang tidak boleh bertentangan dengan Anggaran

Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Nahdlatul Wathan. Badan-badan

otonom ini bilamana hendak mengadakan hubungan atau tindakan keluar

harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengurus Besar dan restu

Dewan Mustasyar Pengurus Besar.